Untuk yang Pertama

 Aksara Senjaku yang Bicara



Memori satu tahun lalu terbuka mengisi lembaran yang sempat tertutupi oleh cerita indah bersama orang-orang terpilih yang dikirimkan Tuhan untukku. Mereka mengisi hari-hariku hingga seakan lembaran usang yang dahulu terjatuh dan terbang, lalu terbenam dalam lautan jingga yang samar serasa lenyap. Tak adalagi kata-kata yang tertulis lagi untuk sebuah ilusi yang sempat kudambakan. Sadarku seolah hilang dan terus terbujuk nafsu, yang entah sampai kapan akan terhenti. Namun sekecil hati ini masih mampu meninabobokkan sesuatu yang membara hiasi jiwaku yang fana.
Sekarang, entah aksaraku masih menyelinap rapat dalam lemari yang tersusun rapi dengan peralatan antik, ataukah tergumpal kaku dan lusuh bahkan tergeletak dalam arena yang tak terperi. Terbuang begitu saja dalam daratan yang menjadi tempat berdiriku sekarang ini. Namun tetap saja pikiranku menjelma sangka dalam kearifan yang mungkin terjadi bagi seorang seniman. Ya, mengahrgai sesuatu  yang belum tentu orang lain memiliki hal yang sama dengan apa yang dimilikinya.
Senja.., lamunan hanya tergores meghiasi lekuk wajahku yang entah berhalusinasi tentang apa yang terjadi sejak beberapa tahun lalu. Ketika pertama, akan tetap terkenang dan menjadi simbol kisah yang tak pernah mudah untuk kulupakan begitu saja. Mereka adalah segala khayalan yang tak pernah sampai, namun inilah keindahan. Mengapa aku dahulu menjadi diriku yang dahulu, meski sekarang berbeda dan sangat berbeda menganggap pola pikirku tak lumrah untuk dicerna. Ya, aku menyebutnya keindahan yang tak  terduga.
Ku hempaskan sayap-sayap yang membawaku pada suatu pagi yang dahulu. Menyapu embun dan sejuknya udara mengintai tiap gerak-gerik tubuhku, hingga sampailah goresan aksara yang kutuangkan secara nyata dalam diksi persahabatan, meski harus kukalahkan ego yang menuntunku begitu hebatnya. Kutegakkan pendirian, dengan alasan aku masih punya hati. Menjadi pribadi sebagaimana mestinya, bahkan lebih berharga dari biasanya. Aku mengenalnya dengan ungkapan ‘berbeda’. Karena berbeda itu sebuah keindahan..
Mungkin cukup untuk mengenang hari ini sebagai “best day ever” yang pernah sempat kuanggapnya sebagai balasan aksaraku. Ya, aksaraku dahulu.. Telah cukup banyak waktu yang kupersembahkan dalam kesia-siaan yang bermakna. Mungkin, aku harus mengakhirinya sekarang juga. Namun izinkan aku meminjam namamu. Nama SenJa, sebagai sebuah kenangan nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Muhasabah

Contoh Teks Master of Ceremony Acara Formal