Menumbuhkan Jiwa Entrepreneurship Generasi Muda
Oleh: Muthi’ah
*Artikel ini telah dilombakan dalam
Hatta Rajasa Writing Competition 2012
A. Pendahuluan
Istilah entrepreneur memiliki arti
wirausaha. Wirausaha berarti orang yang melakukan kegiatan usaha untuk
mengembangkan sistem ekonomi dengan menciptakan sesuatu yang baru, memunculkan
inovasi-inovasi dan kreativitas yang dimiliki. Menumbuhkan minat dan tanggung
jawab yang kuat dalam melandasi terbentuknya kegiatan usaha untuk mencapai
keberhasilan dan menghasilkan keuntungan yang besar.
Menurut
Vyandra Dj (2006), entrepreneur adalah seseorang yang dapat mengoptimalkan
kemampuan dan sumber daya yang ada melalui berbagai inovasi yang diciptakannya.
Dalam hal ini berarti wirausaha bukan hanya memanfaatkan sumber daya yang
tersedia, namun juga berpikir untuk dapat menciptakan sesuatu yang berbeda dari
sumber daya alam (SDA) yang ada sebelumnya, memanfaatkan sumber daya manusia
(SDM) sebagai manusia yang terampil, sehingga ia (wirausaha) mampu bersaing dan
menguasai perekonomian pasar.
Seseorang
dapat dikatakan sebagai wirausaha yang berhasil jika ia mampu berinovatif,
memiliki kreatifitas yang tinggi, serta berkemauan keras dalam menjalankan
usahanya sehingga mampu menggerakkan konsumen. Ini berarti wirausaha tersebut
mampu memberikan nilai lebih kepada konsumen dalam kegiatan berwirausaha dan
membuat konsumen merasa puas terhadap apa yang didapatkannya dari produsen.
Biasanya wirausaha akan selalu mencari tahu apa yang dibutuhkan konsumen dan
produk yang sedang populer dipasaran. Keingintahuan ini bertujuan untuk
menyesuaikan antara produk yang akan dipasarkan dengan kebutuhan konsumen di
tempat tersebut.
Dalam
berwirausaha diperlukan adanya sifat-sifat wirausaha untuk menjadikan usahanya
menjadi berkembang. Sifat wirausaha seseorang telah tertanam sejak manusia
dilahirkan didunia ini. Dengan sifat berwirausaha yang baik maka akan terbuka
pula peluang kesuksesan yang akan menunjang keberhasilan seseorang dalam
menjalankan berwirausaha. Tetapi dibutuhkan waktu yang panjang untuk
memunculkan sifat ini. Karena sifat ini tidak secara tiba-tiba datang, tetapi
dibutuhkan proses dengan berjalannya waktu bersamaan dengan seorang wirausaha
melakukan kegiatan usahanya.
Kesuksesan
dari hasil berwirausaha telah dibuktikan oleh banyak tokoh di Indonesia.
Diantaranya Bob Sadino, Andy F. Noya,
Abdullah Gymnastiar, Ajib Rosidi, Adam Malik, M.H. Ainun Najib dan tokoh-tokoh
lain yang juga mendapatkan keuntungan besar sebagai wirausaha. Kebanyakan
mereka adalah orang –orang yang sukses tanpa ijazah. Namun berkat kegigihan dan
keuletannya mereka mampu membuktikan bahwa wirausaha juga berhak mendapat
penghargaan dari kerja kerasnya.
Sebenarnya
peluang berwirausaha sangatlah luas bagi mereka yang mengetahuinya. Mengingat
kondisi di Indonesia yang begitu besar angka pengangguran yang sangat
memprihatinkan, dan besar kemungkinan peristiwa ini disebabkan kurangnya
pengalaman dan minimnya pendidikan yang mereka dapatkan, sehingga terasa sulit
bagi mereka menjalankan usaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan
keluarganya.
Hal
seperti ini seharusnya segera diatasi dengan upaya memberikan
pelatihan-pelatihan berwirausaha kepada warga negara Indonesia yang tidak mampu
melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Agar tidak berkelanjutan timbulnya
generasi-generasi pengangguran setelah mereka menyelesaikan pendidikan 9 tahun
seperti yang telah diwajibkan pemerintah.
B. Peran Sekolah
Pelajaran
dan pelatihan berwirausaha memang diperlukan untuk melatih sejak dini
pengembangan kreativitas dan memunculkan sifat-sifat wirausaha para generasi
muda. Keterbatasan lapangan pekerjaan yang akan mempersempit peluang penerimaan
di suatu perusahaan, yang menyebabkan seseorang harus membanting tulang sendiri
untuk mendapatkan penghasilan. Oleh karena itu para pelajar harus dididik dan diberikan pelatihan dengan
memasukkan mata pelajaran kewirausahaan sebagai salah satu bidang studi.
Pembelajaran
kewirausahaan di sekolah diharapkan
mampu
memberikan pengetahuan khusus kepada para pelajar mengenai seluk-beluk
berwirausaha. Ironisnya, mata pelajaran kewirausahaan hanya diberikan
di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah yang sebagian besar peserta
didiknya akan langsung bekerja setelah lulus sekolah nanti. Tetapi kenyataan
itu tidak menjadi masalah besar bagi kita generasi muda. Karena dengan adanya
kemajuan teknologi yang serba canggih akan memudahkan kita dalam menambah
wawasan mengenai hal-hal berwirausaha.
Seseorang
yang tanpa menduduki bangku sekolah pun mampu sukses berwirausaha. Karena sifat
wirausaha tidak dapat dinilai dengan uang sebesar apapun. Seperti pengalaman
Ajib Rosidi salah seorang tokoh wirausahawan yang menolak ikut ujian karena
kabar beredar bocornya soal ujian. Ia membuktikannya dengan menulis, membaca
dan terus menabung.
“Saya
tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah,”
ungkap Ajib. Sifat tegas dan kepercayaan diri yang kuat terhadap diri sendiri
serta prinsip yang dipegangnya mampu membawanya ke gerbang kesuksesan. Hingga
pada usianya yang ke-43 beliau menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.
Sifat yang dimiliki Ajib Rosidi ini perlu dijadikan teladan untuk berani
mengambil resiko disetiap apa yang kita lakukan. Padahal jika kita berada
diposisi Ajib saat itu, mungkin kita lebih mementingkan ijazah dibandingkan
mencoba membuktikan sesuatu yang belum tentu kepastiannya.
C. Ketrampilan Berwirausaha
Minimnya
minat wirausaha di kalangan masyarakat Indonesia mengakibatkan kurangnya
lapangan pekerjaan yang berdampak pada pengangguran. Dapat diketahui kurangnya
wirausaha Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa, hanya 0,18% bekerja sebagai
wirausaha dari persentase normal yaitu 2% wirausaha yang dibutuhkan di
Indonesia. Kekurangan ini dapat diatasi dengan cara memunculkan minat
berwirausaha di kalangan masyarakat, khususnya kepada generasi muda, sehingga
mereka mampu membuka lapangan pekerjaan yang akan mengurangi tingkat
pengangguran. Sebab sebagai negara berkembang seharusnya kita lebih
meningkatkan kreativitas dalam berwirausaha. Agar dapat menyamakan kedudukan
dengan negara-negara maju.
Dalam
hal ini, para generasi muda terpelajar khususnya di SMK menjadi sorotan
pemerintah yang diharapkan mampu menciptakan bibit-bibit wirausaha. Karena
sebagai siswa SMK para peserta didik telah dibekali ketrampilan-ketrampilan
sehingga mereka dapat berinovasi saat terjun di dunia kerja khususnya sebagai
wirausaha.
Tetapi
dari seluruh SMK di Indonesia belum juga mampu menutupi kekurangan-kekurangan
wirausaha pada persentase normal. Mungkin hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor. Pertama, kurangnya minat wirausaha di kalangan pelajar terutama siswa
SMK sebagai sekolah kejuruan. Kedua, adanya pola pikir yang menganggap rendah
wirausaha. Ketiga, kebanyakan orang tidak ingin dirugikan saat memulai
usahanya. Sehingga saat ia akan melangkah, timbul pemikiran takut akan resiko
yang dihadapi.
Faktor-faktor
tersebut didukung dengan adanya cita-cita pada masing-masing individu yang
menginginkan bekerja sebagai pegawai maupun bekerja di perusahaan orang lain.
Bahkan dari mereka hanya menjual jasa atau bekerja seadanya untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Sifat ini sangatlah tidak sesuai dengan tujuan
didirikannya SMK sebagai sekolah yang menanamkan bibit-bibit wirausaha demi
memperbaiki perekonomian bangsa serta ketertingalan dengan negara lain. Sebagai
negara yang kaya akan sumber daya alamnya, seyogyanya kita mampu berinovasi
dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada.
D. Pelatihan Berwirausaha
Pelatihan
berwirausaha merupakan hal pokok yang sangat penting bagi para
wirausaha-wirausaha pemula yang akan memulai usahanya. Pelatihan berwirausaha
diberikan kepada para pemula agar mereka dapat mengawali usahanya sesuai dengan
prosedur yang telah mereka programkan sehingga dalam menghadapi berbagai
tantangan dalam berwirausaha mereka mampu mengatasinya. Seperti yang
disampaikan salah seorang tokoh wirausaha “Indonesia setidaknya harus punya dua
persen wirausaha. Saya akan berusaha keras menciptakan wirausaha baru dengan
berbagai program pelatihan dan skema pinjaman,” kata Menteri Koordinator
Perekonomian Hatta Rajasa.
Semangat
yang dimiliki Hatta Rajasa dalam melatih dan memberikan pinjaman kepada para
calon pengusaha sebagai modal untuk berwirausaha patut dihargai. Karena hal
tersebut mampu mendorong orang lain untuk memilih membuka usahanya. Terciptanya
wirausaha-wirausaha baru akan memberikan dampak yang positif terhadap
perekonomian bangsa. Sebab wirausaha merupakan pondasi yang mampu memberikan
kekuatan bagi perkembangan perekonomian suatu bangsa.
Wirausaha dapat diibaratkan sebagai paru-paru
yang akan selalu menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. Jika di Indonesia ini
tidak ada seorang pun wirausaha, maka tidak akan ada petani, nelayan maupun
penjual kosmetik. Padahal segala yang kita butuhkan sehari-hari pasti ada
sangkut pautnya dengan jerih payah wirausaha. Tanpa wirausaha maka perekonomian
bangsa akan tersendat, macet total, bahkan tidak lagi dapat bernafas.
Setiap
orang pasti mengalami pertumbuhan. Normalnya pertumbuhan manusia diawali dari
kecil hingga akhirnya tumbuh menjadi besar. Begitu juga untuk mendapatkan uang.
Seseorang haruslah berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang dia
inginkan. Sama halnya dalam berwirausaha. Pasti usaha yang pertama kali mereka
jalankan diawali dengan usaha kecil yang kemudian berkembang menjadi besar.
Untuk
mendapatkan hasil yang maksimal dari kegiatan usaha, seorang wirausaha harus
mengerti jalan terbaik yang akan ia tempuh. Tetapi tidak semua usaha dapat
berkembang dengan baik. Semua pekerjaan pasti memerlukan usaha. Seseorang pasti
tidak akan dapat hidup dan berkembang tanpa makan dan minum. Begitu juga
wirausaha dalam menjalankan suatu usaha diperlukan kesungguhan, keuletan dan
tanggung jawab terhadap usaha yang dijalankannya. Dengan begitu maka usaha yang
sedang kita jalankan mampu bertahan dengan baik.
Dengan
kesungguhan, keuletan dan tanggung jawab maka usaha dapat berjalan dengan baik. Untuk itu dibutuhkan
pelayanan yang memadai agar dapat memberikan kepuasan kepada konsumen,
diantaranya :
Pertama,
usaha yang kita bangun haruslah sesuai dengan kondisi dan keadaan masyarakat
sekitar. Kebiasaan dan adat istiadat masing-masing daerah pasti berbeda-beda.
Tergantung dari budaya yang ada dan yang telah lama dianut oleh masyarakat di
daerah tersebut. Sebagaimana jika kita menjual makanan yang bercita rasa manis
di daerah Padang mungkin jarang sekali peminatnya, sebab di daerah tersebut
telah terbiasa dengan makanan yang mempunyai cita rasa pedas. Maka dari itu
kita harus mengetahui latar belakang masyarakat sekitar kita. Sehingga kita
sukses dalam menjual produk yang kita tawarkan.
Kedua,
melayani konsumen dengan baik. Sebagai wirausaha tidak akan sukses jika tidak
ada pembeli. Oleh sebab itu kita harus melayani konsumen dengan baik. Karena
sesungguhnya pokok kesuksesan seorang wirausaha berasal dari konsumen. Sesuai dengan kata pepatah “pembeli
adalah raja.”
Ketiga,
selalu menerima kritik dari konsumen sebagai bahan perbaikan perusahaan. Jika
ada kritik yang disampaikan konsumen, maka terima kritik itu dengan lapang dada
demi kemajuan usaha kita.
Dalam
menjalankan usahanya seorang wirausaha akan memulai dari hal terkecil. Yaitu
memulai berwirausaha dengan modal seadanya. Sebab dalam berwirausaha tidak
diperlukan adanya modal yang besar namun dengan modal yang terbatas kita akan
berpikir bagaimana kita dapat memanfaatkan modal tersebut menjadi sesuatu yang
dapat diminati khalayak. Jika modal yang kita miliki sangatlah minim maka yang
harus dilakukan yaitu dengan bekerja sama dengan seseorang yang dapat
meminjamkan modal untuk menjalankan usaha. Karena banyak sedikitnya modal
sesuai dengan usaha yang akan kita jalankan.
Pengalaman
Curt Jones, seorang ahli mikrobiologi yang tumbuh besar di Lexington, Kentucky
sebagaimana dikutip oleh Emily Ross (2007), saat bekerja di sebuah pabrik pakan
ternak tentang penemuan es krim yang dicobanya dengan cara membekukan enzim
dari bakteri “baik” yang dicampurkan ke dalam pakan ternak.
Tiga
minggu kemudian, Jones, yang tergelitik oleh pemikiran membuat es krim dengan
suhu yang lebih dingin daripada di Pluto, membawa temannya dan beberapa kotak
adonan es krim ke dalam lab. Mereka mencapurkannya dengan nitrogen cair dan
mencicipi rasanya. “Sungguh dingin, sekitar minus 200 [minus 130 derajat
Celcius] dan membakar lidah kami,” kenangnya. Tapi setelah suhunya naik
sedikit, rasanya sungguh lembut.
Jones
menaruh campuran es krim kedalam mesin nitrogen pembeku pelet, menghasilkan es
krim yang bukan saja beku secara kryogenik, melainkan juga membentuk
butir-butir kecil. Sebuah produk unik yang berpotensi pasar. “Saya seperti
menjumlahkan dua tambah dua” katanya. “Saya merasakan sejak awal bahwa ini
mungkin memiliki peluang, karena begitu berbeda.”
Daftar
Pustaka
Dj,
Vyandra. 2006. Innovative Entrepreneur. Semarang : Ide Media.
Ross,
Emily and Angus Holland. 2007. 100 Great
Business Ideas. Australia : Random House.
(irengputih.com/../343/)
Komentar
Posting Komentar