Runcingkan Pena, dan Menulislah Sekarang Juga!

Oleh: Muthi’ah
*Essai ini telah dilombakan dalam LKPM IAIN Surakarta Membaca 2014, sebagai terbaik ke-5 pada tanggal 17 Desember 2014

            Kemahiran menulis bukan diajarkan sebagai proses menuju pembentukan keahlian menaburkan kata-kata. Tetapi bagaimana merealisasikan kegiatan ini sebagai wujud pembiasaan menulis yang apa-adanya. Bahkan jika dikaitkan dalam dunia pendidikan, menulis bukan menjadi sesuatu yang asing lagi dikalangan pelajar dan mahasiswa. Dimana menulis merupakan salah satu aspek yang masuk dalam kegiatan pembelajaran efektif, yang terdiri dari kegiatan membaca (reading), mendengarkan (listening), berbicara (speaking) dan menulis (writing).  Namun realitanya, menulis belum dapat dijadikan sebagai sebuah kebiasaan. Para pelajar dan mahasiswa baru akan menulis ketika mendapat tugas yang membuat mereka tergabung dalam gerakan ‘wajib menulis’. 


Membangun Budaya Menulis
Diperlukan pemaksaan untuk mengajarkan kebiasaan menulis dikalangan generasi muda sebagai wujud pengaplikasian ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Ersis Warmansyah Abbas (2008), dalam bukunya mengungkapkan, “Sesungguhnya saya curiga, inilah akibat salah kaprah dari sistem pendidikan. Intelektual negeri ini terutama lulusan perguruan tinggi, kebanyakan menulis karena terpaksa.” Dalam alinea lain, dia memaparkan, “Ya, pada dasarnya mereka adalah penulis. Sebab, sudah menyelesaikan puluhan tugas lapangan, makalah, skripsi, tesis sampai desertasi. Itu bukti nyata kemampuan menulis. Gen menulis dipaksa diaktifkan untuk memenuhi tugas perkuliahan.” Terlahir dari keterpaksaan inilah yang menjadikannya mampu menulis walaupun terikat oleh waktu. Namun pada kenyataannya, tak sedikit dari mereka yang memang mampu menulis kreatif. Hanya saja belum berkeinginan mengembangkan secara terampil kebiasaan menulis yang seharusnya menjadi makanan pokok dalam rangka menempuh pendidikan untuk mewujudkan generasi intelektual, cakap dan bermoral.
Gigay Citta Acikgenc (2013), selama 12 tahun kami dijejali soal-soal  yang tidak akan kami hadapi di kehidupan nyata. Kami tidak dibekali cara berpikir kritis karena kami tidak dibiasakan menulis. Dari ulangan harian sampai Ujian Nasional yang berbentuk pilihan ganda tidak mendorong kami untuk mencintai riset pustaka alias merangsang kami untuk gemar membaca. Sehingga, akhirnya tidak terbentuk pola pikir yang kreatif dan berpikiran terbuka (open-minded) dalam menyelesaikan masalah.
Hal-hal yang menghambat potensi menulis memang datang dari berbagai penjuru. Hingga argumen yang beraneka ragam menjadi alasan untuk segera atau menunda dalam menuangkan ide dan gagasan yang hendak kita tulis. Lalu alasan apa yang menjadikan kita untuk tidak menulis sekarang juga? Lagipula tidak akan rugi seorang penulis, selagi ia masih mengedepankan etika menulis yang baik. Dengan memaknai kegiatan menulis sebagai upaya membelajarkan diri.
Menulis Sesuka Hati
            Sesungguhnya kesulitan menulis bukan dilihat dari cara kerjanya, melainkan pembiasaan yang perlu diterapkan dengan keteraturan. Sebagai langkah awal membiasakan menulis sejak dini, peran menulis sesuka hati adalah sarana paling mudah untuk meluapkan apapun yang ingin kita tulis. Baik buruknya tulisan tersebut tidak lagi menjadi hal yang pantas dipermasalahkan. Bahkan menulis dengan buruk, kata-kata awut-awutan dan kebodohan yang tertuang dalam karya kita bukanlah masalah bagi orang yang memang bersungguh-sungguh untuk membentuk kebiasaan menulis. Maka dari itu, tulis apa yang terlintas dalam pikiran kita tanpa melihat baik-burukya hasil yang akan didapat. Secara teratur kebiasan ini dilakukan, bagaikan pisau yang sering kali diasah, sehingga menjadi tajam dan pantas digunakan. Begitu pula dengan kebiasaan menulis yang diterapkan secara istiqomah.
            Menurut Ersis (2008), puncak penglihatan menulis yang paling ambak adalah menulis itu sendiri. Ibaratnya, ketika berdiri di Sitinjau Lawik, ini panorama di atas Bukit Barisan Sumatera. Memandang kota Padang lepas melampaui Samudera Hindia. Wui.. sedapnya. Ketika menulis sudah dilakukan, apalagi sudah ada hasilnya, hati akan berbunga-bunga. Keindahan perasaan dan ringannya pikiran adalah imbalan tak terperi; menjadi ‘manusia baru’. Nyaman.
Luruskan Niat, Tebar Manfaat
            Mohammad Fauzil Adhim (2005), mengutip buku Dunia Kata: Mewujudkan Impian Menjadi Penulis Briliant. Demi Allah, saya mengharap dengan seluruh kekuatan yang saya miliki agar setiap tulisan mempu menciptakan perubahan besar bagi hidup, pikiran, jiwa dan agama kita. Hidup ini tak lama, sedangkan kematian amat dekat. Maka, saya berharap setiap kata yang dituliskan menjadi bekal untuk hidup sesudah mati.
Sungguh, sebuah tujuan mulia yang tak pernah terlintas dalam benak kita untuk menjadikan ilmu yang bermanfaat sebagai bekal menuju akhirat. Bahwa dengan media tulis, kita mampu memberikan perubahan besar terhadap kehidupan nyata. Tergantung baik buruknya tujuan yang hendak dicapai penulis itu sendiri.  
            Menyeruak kisah nyata dalam tragedi kepenulisan, berkaitan tentang dahsyatnya dampak sebuah karya tulis, bahwasannya Negara Yahudi Raya yang bernama Israel barangkali tidak akan pernah ada seandainya seorang Benyamin Se’eb alias Theodore Herzl tidak menulis sebuah buku tipis bertajuk Der Judenstaat (The Jewish State). Bersama karya fiksinya yang berjudul Altneuland (Old New Land), buku ini mengispirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan negara Israel dengan merampas hak-hak orang Palestina. Melihat realita ini, masihkah kita menulis hanya untuk mendapatkan sorak riuh dan tepuk tangan dari orang lain? Maka, menulislah sejak dini dengan mengungkapkan apapun pengetahuan yang kita miliki dengan tetap berlandaskan kebenaran, sehingga membawa manfaat tanpa melenceng dari syariat.
Mengingat petuah seorang guru, jika kamu tidak mampu menulis untuk orang lain, maka menulislah untuk dirimu sendiri. Jadi, luruskan niat dan tidak ada alasan untuk tidak menulis. Berikan perubahan besar untuk kemajuan bangsa, dengan rangkaian aksara yang kita ciptakan.
Menurut survei, menulis yang bermanfaat mampu memelihara ingatan seseorang. Hal ini juga didukung dengan penelitian terhadap fungsi otak dalam mengingat sesuatu, sebagaimana dikutip Fauzil Adhim (2005), bahwa 95% ingatan kita akan memfungsikan otak apabila kita mengajarkannya kepada orang lain. Sementara bagian lain, memfungsikan 10% mampu mengingat dari sesuatu yang kita baca, 20% apa yang kita dengar, 30% apa yang kita lihat, 50% apa yang kita dengar sekaligus lihat, 70% jika kita bicarakan dengan orang lain, dan 80% apabila kita mengalaminya sendiri. Sehingga gunakanlah kesempatan menggoreskan pena, sebagai kegiatan yang mampu mengembangkan diri, terlebih mampu memberikan manfaat terhadap orang lain.
Tanamkan Kesabaran
            Pada hakikatnya, meraih puncak tertinggi gunung Lawu saja bukanlah hal yang mudah. Dalam perjalanannya pun, selalu dibutuhkan kekuatan dan semangat yang menggelora. Namun setelah sampai pada puncak gunung, segala kelelahan bagaikan terobati dalam sekejap. Dapat menyaksikan panorama alam yang indah dari ketinggian dengan kerja keras kita sendiri. Sungguh, itulah keindahan sebuah pencapaian. Sama halnya dengan menulis, kebahagian akan datang pada saat yang tepat. Meski harus bergulat dengan aksara, merasakan rumitnya merangkai kata, bahkan untuk membuat tulisan yang bermakna, adalah hal yang [tidak] mudah untuk dirasa. Namun itulah perjalanan menuju kesempurnaan membelajarkan diri. Yakinlah, semua akan indah pada waktunya.
            Seperti ungkapan salah seorang penulis, “seandainya semua orang memiliki kecerdasan yang sama dalam menulis, akar kesabaranlah yang akan membuat engkau berbeda.
            Maka jangan puas dengan hanya menjadi penikmat karya. Tetapi ciptakanlah karya yang membawa nikmat bagi orang lain. Sebagaimana salah satu manfaat menulis menurut Akhadiah dkk, (1988), tugas menulis mengenai suatu topik mendorong kita belajar secara aktif. Kita harus menjadi penemu sekaligus pemecah masalah, bukan sekedar menjadi penyadap informasi dari orang lain. Sebagai mahasiswa yang ikut berperan dalam kemajuan bangsa, selayaknya mampu berpikir kreatif dengan membiasakan menulis sejak dini. Tidak perlu banyak bicara, demo, mengkritisi berbagai masalah, bahkan melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat sebagai ungkapan perasaan. Ambillah jalan dengan menuliskannya sebagai sarana penyaluran aspirasi dan pendapat yang kita miliki. Karena tidak ada alasan untuk tidak menulis, karena penulis bukan dilahirkan, tetapi adanya mereka karena diciptakan. Siapapun kita, menulislah sekarang juga!


Daftar Pustaka
Adhim, Mohammad Fauzil. 2005. Inspiring Words for Writers. Yogyakarta. Pro-U Media.
Abbas, Ersis Warmansyah. 2008. Menulis Berbunga-Bunga. Yogyakarta. Gama Media
Citta Acikgenc, Gigay. “Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan”. http://www.tempo-institute.org/jika-aku-menjadi-menteri-pendidikan/




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Muhasabah

Contoh Teks Master of Ceremony Acara Formal