Postingan

Sebelum Hari Berganti

Sebelum habis tanggal ini, 3 Februari yang begitu ungu. Sudah kuduga, akan banyak peristiwa tak disangka-sangka menginjak tahun 2017. Maka, aku akan mengabadikannya sebagai memorable moment. Meskipun malam ini, mungkin aku tak ingin serius menuliskan apa yang sebenarnya terjadi hingga saat aku   benar-benar menuliskannya sekarang. Tapi, lagi-lagi aku hanya tak tega menghabiskan sisa malam ini tanpa menulis sedikitpun. Sebab, 3 Februari membuatku terbayang tentang seorang bayi yang menangis karena harus menghadapi kehidupan dunia saat raga keluar dari rahim ibunya. Maka, kembali kumaknai hari ini sebagai kemenangan atas kehidupanku yang lalu.

Setangkai Sukma Teruntuk "Kusuma"

Matahari telah menampakkan sinarnya hingga turut menyinari hari kita agar senantiasa bahagia. Maka, saat suka maupun duka sempat singgah, tiada kata selain kebahagiaan atas kenikmatan iman yang membuat kita dipersaudarakan. Sungguh, sebuah pertalian teman tidak akan cukup untuk membayar status selain daripada kesamaan akan tujuan dalam menggapai keridhoan Illahi. Sebab, aku tahu betul bagaimana menerjemahkan hatiku tentang kebersamaan dan nyaman yang kurasakan.

Sajak; Asma dan Karya

Asma dalam bahasa Jawa berarti nama. Sedang karya adalah rupa cipta. Begitulah definisi singkatnya. Aku punya nama, kau pun juga sama. Punya nama! Kita dilahirkan sebagai manusia. Ciptaan Tuhan paling mulia. Tentu ada alasan disebalik asma , harapan (doa) orangtua kepada anaknya. Agar ketika hidup di dunia, selalu menghadirkan citra sebagai insan mulia. Baik dalam kata, rupa, sebagaimana rasul utusan-Nya.

Analisis Puisi Karya "Bocah" Sukowati

Rindu Bumi Sukowati Karya: (No. Peserta 18) Kota kecil penuh kenangan Tempat diriku dibesarkan Tempat tubuh ini dilahirkan Walau tak banyak tempat wisata Tetapi Aku bahagia tinggal disana Rindu.. rindu.. Singgah dihati ini Kala mengingatnya

Surga Kecil

            Sekarang, hal yang paling kuinginkan adalah pulang. Kerinduanku pada ibu memang sebuah harapan yang tak bisa ditawar. Mungkin diusiaku menuju dewasa ini, waktu tak lagi lama untuk membersamai orangtua. Aku terlampaui sibuk dengan duniaku yang baru, menuruti kemauanku dan lupa untuk sesekali mendengarkan cerita mereka. Aku lupa, kesepian tak ubahnya membuat lukisan-lukisan tentang raut wajah ibu yang semakin renta dan layu. Aku hanya mampu memandangi kesendirian serta harapan yang tak hentinya mengisyaratkan doa.

Dokumentasi Prestasi

Data Diri : Nama : Muthi'ah Nama Pena : Mutia Senja Tempat, Tanggal Lahir : Sragen, 3 Februari 1996 Alamat : Margo Asri, Rt 27 / Rw 08, Puro, Karangmalang, Sragen Email : muthiahart@gmail.com Blog : aksaramutiasenja.blogspot.com IG : @mutia_senja dan @roepasendja (artwork) Hobi : membaca, menukis, melukis, tualang, dll. Agama : Islam Jenis Kelamin : Perempuan Visi Hidup : bergerak, berkarya, menebar manfaat Motto : Teruslah berkarya untuk Tuhan dan negaramu! Riwayat Pendidikan : TK Aisiyah Bustanul Athfal   (2000-2002) SD Negeri Plumbungan 5   (2002-2008) SMP Negeri 1 Karangmalang   (2008-2011) SMK Negeri 1 Sragen   (2011-2014) IAIN Surakarta   (2014-2019)

Membangun Istana Anak Kita

Gambar
*Republika Islam Digest: Pembaca Menulis I lustrasi gambar : dakwatuna.com             Sebuah fenomena yang menyesakkan ketika mendapati anak remaja bertingkah “liar”. Mereka seolah tidak mempunyai tempat terdekat (keluarga) untuk berbagi cerita, mengungkapkan keinginannya, atau hanya sekedar mengekspresikan diri. Justru banyak anak terpelajar yang turut terjerumus dalam pergaulan bebas. Tingkah laku yang kerap kita jumpai di lingkungan sekitar menunjukkan betapa “bobrok”-nya moral anak bangsa.