Postingan

Surat buat Februari

Gambar
Dear Februari.. “Hari ini aku ingin menulis lagi. Seperti saat aku hanya mampu megagumi Senja yang ternyata ia adalah seorang ***.   Aku tak kuasa mengatakannya. Maka aku memutuskan untuk pergi saja.” 

Memilih Menikmati

*Esai ini telah dipublikasikan di Mimbar Mahasiswa Solopos edisi 9 Januari 2018 Oleh : Muthi’ah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Surakarta Membicarakan jurusan memang tidak ada habisnya. Apalagi dikait-kaitkan dengan problematika pekerjaan dimasa depan. Meskipun jurusan menjadi pertimbangan yang membingungkan saat hendak melanjutkan studi dibangku perkuliahan, namun bagi saya jurusan bukan penentu (paten) seseorang sukses atau tidaknya dalam menghadapi kehidupan mendatang.

Catatan Hasta Indriyana

BAGAIMANA BACA PUISI ITU? Seorang laki2 berjas biru abu2 setinggi sekitar 170 cm maju ke panggung. Tangan kanannya memegang tongkat aluminium dituntun panitia dan kemudian ditempatkan di atas panggung menghadap audiens. Setelah memberi hormat pd dewan juri di depannya, ia membaca puisi "Gugur" karya WS Rendra.

Apresiasi: Perihal Buku Kesengsem

Gambar
Kepada Alfin Rizal Kupersembahkan pungutan aksaraku untukmu. ─ Mutia Senja Selamat Kesengsem! PERIHAL LUPA Saat yang tak mungkin bisa Kurindu-rindukan ialah lupa Sebab lupa, kekasih Adalah ketiadaan kisah dan kenangan Dan kita menjalin keduanya Hingga tumbuh mengakar dalam diri kita

Di Atas Panggung Diksi Aku Masih Berdiri

Gambar
Ternyata, lama sudah aku tidak menulis lagi.  Kali ini ingin sekali rasanya mengisi kembali beranda ini dengan aksara-aksara yang tak hentinya Kau baca. Ya, perihal hidup dan kehidupanku yang Engkau naungi dengan penuh cinta. Terima kasih, Tuhan. 

Poetry Project; Mendambakan Lupa

11 Juni 2017, serupa hari paling angin untuk membawaku ke dunia yang berbeda. Seorang alumni Sastra Daerah FIB UNS yang terbukti multitalent membuatku menemukan inspirasi baru . Tentu tak lepas dari dunia sastra yang dikolaborasikan dengan kemampuannya. Ya, dia menyukai videography, art, culture, dan literature. Panggil saja Mas Mumu. Sekarang, dia bekerja sebagai guru di sebuah lembaga pendidikan “Insan Cendekia” Surakarta. Begitulah cuplikan awal sebelum kami melangkahkan niat membuat video ini atas permintaanku. Sebab, bisa jadi mustahil video puisi ini dapat selesai tanpa batuan dirinya dan teman-temannya.

Bahagia

Gambar
                 Tepat hari ini, aku malas melakukan apapun. Tepat hari ini, aku ingin pagiku kembali malam dan aku akan tidur sepuasnya. Tepat hari ini, justru kesibukan membuatku tak bisa menguburkan kenangan. Ah bukan! Hari ini aku sangat bersemangat. Hari ini aku akan bertemu dengan orang-orang hebat. Ya, hari ini aku akan kembali tertawa melepas segala yang membuatku terluka. Ah bukan juga! Aku tidak pernah sedikitpun terluka meski berdarah-darah dan hancur. Kau tahu ? Aku tidak pernah terluka atau bahkan kecewa.