Postingan

Melukis Kepergian

Gambar
* Puisi Mutia Senja di Magelang Ekspres edisi Sabtu, 10 Maret 2018 Rubrik Menoreh. MENERKA MATA Aku melihat keindahan saat mata terbuka Rumput-rumput menari di tanah yang terhampar Bagai sajadah yang dipenuhi metafora diksi Bahkan ketika netraku terkatup mengusir dahaga Pada apa-apa yang melenakan mata

Aku Ingin Berkawan dengan Apa Saja

Gambar
*Puisi-Puisi Mutia Senja yang terbit di Solopos edisi Minggu, 28 Januari 2018. Merindukan Kehangatan /1/ Tuhan, bolehkah aku tertidur di ladang yang kau ciptakan ? meskipun langit mendung dan hujan petir hampir-hampir turun bahkan badai dikawal jutaan rerunTuhan akan menghantam tubuhku di pembaringan biarkan asal kau tetap mencintaiku

Impian Polan

Gambar
Barangkali impiannya belum seutuhnya sempurna. Tatapan mata kecil itu tak cukup mengerti bagaimana memperlakukan hidup. Terkadang ia memiliki keinginan yang hanya sebatas harap. Lagi pula, pandangannya belum cukup menembus cakrawala keilmuan untuk menerjemahkan bahasa lingkungan. Ia hanya mengenal nalurinya dan keinginannya pun terlahir dari harapan-harapan kecil suara hatinya. Sederhana.

Surat buat Februari

Gambar
Dear Februari.. “Hari ini aku ingin menulis lagi. Seperti saat aku hanya mampu megagumi Senja yang ternyata ia adalah seorang ***.   Aku tak kuasa mengatakannya. Maka aku memutuskan untuk pergi saja.” 

Memilih Menikmati

*Esai ini telah dipublikasikan di Mimbar Mahasiswa Solopos edisi 9 Januari 2018 Oleh : Muthi’ah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Surakarta Membicarakan jurusan memang tidak ada habisnya. Apalagi dikait-kaitkan dengan problematika pekerjaan dimasa depan. Meskipun jurusan menjadi pertimbangan yang membingungkan saat hendak melanjutkan studi dibangku perkuliahan, namun bagi saya jurusan bukan penentu (paten) seseorang sukses atau tidaknya dalam menghadapi kehidupan mendatang.

Catatan Hasta Indriyana

BAGAIMANA BACA PUISI ITU? Seorang laki2 berjas biru abu2 setinggi sekitar 170 cm maju ke panggung. Tangan kanannya memegang tongkat aluminium dituntun panitia dan kemudian ditempatkan di atas panggung menghadap audiens. Setelah memberi hormat pd dewan juri di depannya, ia membaca puisi "Gugur" karya WS Rendra.

Apresiasi: Perihal Buku Kesengsem

Gambar
Kepada Alfin Rizal Kupersembahkan pungutan aksaraku untukmu. ─ Mutia Senja Selamat Kesengsem! PERIHAL LUPA Saat yang tak mungkin bisa Kurindu-rindukan ialah lupa Sebab lupa, kekasih Adalah ketiadaan kisah dan kenangan Dan kita menjalin keduanya Hingga tumbuh mengakar dalam diri kita